Raker SMPK Giovanni Sambut Pembelajaran di Tahun 2022 (Catatan Kritis Buat Guru)

Penulis : AGUNG HERMANUS RIWU, 5 Januari 2022

GivansJHS – Menyambut  pembelajaran di tahun 2022, Sekolah Menengah Pertama Katolik (SMPK) Giovanni Kupang menggelar Rapat Kerja (Raker) bagi tenaga pendidik dan kependidikan. Kegiatan yang dihelat selama dua hari, Rabu (5/1/2022) dan Kamis (6/1/2021) dibuka secara langsung oleh Kepala SMPK Giovanni Kupang, Kornelis Seran Nahak, S.Pd., M.Hum. Hadir pula pada kesempatan tersebut Pengawas Pembina dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Daud Lawa, S.Pd., M.Pd.

Dalam sambutannya, Kornelis mengatakan tantangan pembelajaran di masa pandemi yang dihadapi guru, peserta didik dan orang tua terus memacu sekolah untuk mempersiapkan segala keperluan penyelenggaraan pendidikan secara baik. Tidak hanya perlengkapan protokol kesehatan (prokes) tetapi juga kelengkapan pembelajaran.

“Jadi tidak hanya sarana dan aturan prokes yang ketat, tetapi sekolah dalam hal ini guru wajib mempersiapkan perangkat pembelajaran dengan baik, yang didalamnya memuat rencana pembelajaran, pendekatan, metode dan strategi untuk menggolkan tujuan pembelajaran sebagaimana termuat dalam tuntutan kurikulum,” katanya.

Kornelis juga menyampaikan, selama masa pandemi terutama pada pembelajaran jarak jauh, seluruh komponen sekolah terus berupaya memberikan pelayanan yang maksimal kepada peserta didik. Dari pengalaman tersebut, lanjutnya, guru terlatih dan terbiasa menggunakan ragam media pembelajaran untuk menyajikan informasi dan ilmu pengetahuan bagi peserta didik.

Sehingga ia berharap, kualitas pembelajaran di masa pembelajaran tatap muka terbatas harus dipertahankan bahkan ditingkatkan, terutama dalam menghadapi pemberlakuan kembali pembelajaran normal 100 persen.

“Ketika pembelajaran jarak jauh, guru terbiasa menggunakan berbagai produk digital. Dan itu merupakan pengalaman yang harus memberikan dampak positif di era pembelajaran tatap muka terbatas yang sebentar lagi normal 100 persen,” katanya.

Integrasi Karakter, Literasi, 4C dan HOTS dalam RPP

Raker yang digelar dalam rangka meningkatkan kompetensi pendidik SMPK Giovanni menghadirkan Pengawas Pembina dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Daud Lawa, S.Pd., M.Pd., sebagai narasumber. Kehadiran tersebut juga merupakan tindak lanjut dari proses pengawasan dan pendampingan di semester ganjil bersama Kordinator Pengawas Ery Lay Lena, S.Pd.,M.Fis.

Materi penguatan yang diberikan kepada pendidik SMPK Giovanni berkaitan dengan pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mengintegrasikan penguatan pendidikan karakter (PPK), literasi, HOTS (higher order thinking skills) dan 4C (communication, collaboration, critical thinking and problem solving, dan creativity and innovation).

Daud menyampaikan, dalam melaksanakan penguatan pendidikan karakter guru perlu mengintegrasikan, memperdalam, memperluas sekaligus menyelaraskan berbagai program dan kegiatan pendidikan karakter yang dikembangkan di sekolah atau yang menjadi budaya di sekolah.

“Pengintegrasian dapat berupa pemaduan kegiatan kelas, luar kelas di sekolah, dan luar sekolah baik bersama masyarakat maupun komunitas, pemaduan kegiatan intrakurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler,” katanya.

Berkaitan dengan aspek literasi, Daud menjelaskan bahwa literasi adalah kemampuan mengakses, memahami dan menggunakan media informasi secara cerdas melalui aktivitas membaca, melihat, menyimak, menulis dan berbicara. Lanjutnya, literasi lebih sekadar membaca dan menulis, namun mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digiatal dan auditori untuk memecahkan masalah hinggal menghasilkan produk atau karya.

Ketika menyinggung tentang keterampilan abad 21, ia mengingatkan guru dalam pembelajaran di era K-13, tidak boleh sekadar mentransfer materi, tetapi harus membentuk empat keterampilan abad 21 dalam diri peserta didik yakni Communication, Collaboration, Critical Thinking and Problem Solving, dan Creativity and Innovation.

“Abad 21 adalah masa yang penuh dengan tantangan, dunia berkembang dengan sangat cepat, dinamis sehingga membutuhkan sumber daya yang berkualitas. Penguasaan keterampilan abad 21 sangat penting, 4C adalah  jenis softskill yang pada implementasi keseharian, jauh lebih bermanfaat ketimbang sekadar pengusaan hardskill,” terangnya.

Daud juga menjelaskan tentang pentingnya Higher Order of Thinking Skill (HOTS). Menurutnya, HOTS adalah kemampuan berpikir kritis, logis, reflektif, metakognitif, dan berpikir kreatif yang merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi.

“Kurikulum saat ini menuntut pembelajaran yang dirancang guru harus sampai pada aspek metakognitif yang mengarahkan peserta didik memiliki kemampuan memprediksi, mendesain, dan memperkirakan. Ranah dari HOTS antara lain kemampuan analisis, evaluasi dan mengkreasi,” paparnya.

Sehingga ketika menyusun RPP, lanjut Daud, Guru harus memunculkan empat aspek tersebut (PPK, Literasi, 4C, dan HOTS).

“Butuh kreatifitas guru dalam meramunya. Oleh karena itu, menjadi catatan kritis bagi guru agar tidak boleh lagi menggunakan pendekatan yang berpusat kepada guru, tetapi wajib memberikan peran yang lebih besar kepada peserta didik melalui Active Learning.

Ingat Empat Kompetensi Guru

Secara terpisah, Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum, Jacobus S. Boleng, S.Pd., M.Hum., memberikan apresiasi kepada seluruh unsur SMPK Giovanni Kupang yang terus melakukan perubahan.

“Apresiasi untuk semua rekan-rekan guru SMPK Giovanni Kupang yang terus melakukan perubahan serta loncatan dalam melaksanakan proses belajar mengajar di masa pandemi,” ujar Jacobus.

Ia mengingatkan agar amanat Undang–Undang Nomor 20  tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Permendikbud Nomor 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan kompetensi Guru dengan sungguh dijalankan oleh semua guru.

“Situasi saat ini memberi tantangan yang besar bagi guru, apakah guru mampu menjawab dan melaksanakan tugasnya dengan baik sesuai amanat Undang–Undang ?”

Menurutnya, peran guru di era new normal ini sangat penting. Guru harus mempunyai terobosan baru dan mampu mengemas pembelajaran yang berbasis teknologi.

“Guru harus bisa menciptakan perubahan terutama pada diri peserta didik agar menjadi manusia yang lebih baik,”

“Kehadiran seorang guru harus mampu melahirkan peserta didik yang memiliki daya saing yang tinggi juga dibekali dengan nilai–nilai karakter dasar yang kuat,” katanya.

Jacobus pun menegaskan, tugas seorang guru harus didasari pada empat kompetensi pokok yakni, kompetensi pedagogik, kepribadian, professional dan sosial. Empat kompetensi tersebut harus menjadi acuan dalam setiap langkah hidup seorang guru sehingga harapan akan perubahan bisa nampak terlihat.