Belajar Dari Kegagalan - Nena Rozarie

Oleh : Reinha Rozarie Nerramori Seluru – Kelas VIII C SMPK Giovanni

(Video Ilustrasi Dari Tulisan : Belajar Dari Kegagalan)

Pada suatu hari, di dalam hutan yang rindang dimana terdapat danau yang besar, terlihat sekelompok semut yang dipimpin oleh pemimpinnya menuju suatu tempat.

Sekelompok semut tersebut memikul masing-masing sumber makan yang terlihat seperti potongan tumbuh-tumbuhan. Mereka berjalan beriringan sambil memikul sumber makanan yang mereka temukan, diatas batang pohon besar yang sudah tumbang serta melewati beberapa batu-batu besar.

Beberapa saat setelah berjalan sedikit jauh, pemimpin semut memberi isyarat agar berhenti. Pemimpin semut menemukan sebuah ranting kayu yang dapat menjadi jembatan antara dua batu besar, untuk menyeberang ke sebelah. Pemimpin semut kemudian perlahan berjalan ketengah ranting kayu untuk memeriksa kekuatan ranting kayu dengan cara menggoyangkan ranting kayu berkali-kali. Pemimpin semut sudah yakin akan kekuatan ranting kayu, maka ia memberi isyarat kepada semut-semut yang lain agar mulai menyeberang.

Ketika semua semut sudah berada ditengah-tengah ranting, beban ranting kayu menjadi besar dan ranting kayu pun mulai menunjukan patahan-patahan kecil. Pemimpin semut yang melihat hal tersebut, kemudian memberi isyarat kepada semut-semut yang berada dibelakangnya agar segera mundur dan kembali ke tepian. Akhirnya ranting kayu pun patah terbagi dua setelah rombongan semut sudah selamat sampai ke tepian. Usaha mereka untuk menyeberangi danau dengan menggunakan ranting kayu gagal.

Setelah beberapa saat, pemimpin semut kemudian melihat ke sekeliling tempat itu dan menemukan tumpukan koran. Ia memberi isyarat kepada semut-semut yang lain agar berkumpul dan memberikan perintah untuk membuat alat penyeberangan dari koran tersebut. Usaha mereka dilakukan dengan beberapa kali mencoba berbagai bentuk alat, misalnya membentuk seperti angsa dan gajah, namun pada akhirnya koran dibentuk menjadi serupa pesawat terbang.

Pemimpin semut memberikan isyarat agar semut – semut naik keatas pesawat koran dan dua semut lainnya membantu mendorong pesawat kertas dari tepi batu. Para semut bekerja sama mengendalikan pesawat kertas agar tetap seimbang. Setelah melewati beberapa batu besar, muncul angin yang begitu kencang dan membuat para semut hilang kendali, sehingga pesawat pun berputar dan beberapa semut terlempar keluar. Pesawat kertas akhirnya menabrak sebuah batu ditengah danau dan mengalami kerusakan, sehingga usaha kedua mereka untuk menyeberang kembali gagal.

Para semut mencoba bangkit dari kedua kegagalan tersebut dan tidak tinggal diam. Mereka kembali membentuk koran tersebut dari pesawat yang telah rusak sebelumnya agar masih tetap dapat berfungsi. Semut – semut membentuk koran menjadi serupa sebuah kapal kecil dan pada akhirnya mereka menaiki kapal kertas dan menyeberanginya bersama-sama.

Dari cerita diatas, terdapat beberapa nilai-nilai kehidupan yang begitu penting. Pertama, nilai TANGGUNG JAWAB yang ditunjukan oleh pemimpin semut yang tetap berusaha untuk mencari solusi dari setiap kegagalan yang mereka hadapi, terutama dari setiap keputusan yang diambilnya sebagai pemimpin.

Kedua, nilai KETAATAN dari semut-semut lain kepada pemimpin semut. Hal itu terlihat ketika mereka dengan setia, mengikuti setiap isyarat pemimpin mereka tanpa ragu, walaupun akhirnya mereka merasakan kegagalan.

Ketiga, sikap PANTANG MENYERAH dari pemimpin semut dan rombongannya, walaupun usaha mereka beberapa kali gagal, namun mereka tidak kenal menyerah dan selalu semangat dalam bekerja sama dan tidak terpecah – belah. Mereka tidak kenal akan rasa takut untuk kembali mencoba menyeberang.